9 Rahasia Penting dalam Perencanaan Produk Baru yang Pasti Laris

Perencanaan produk baru yang Anda luncurkan gagal dan tidak diterima masyarakat?

Hal ini merupakan sebuah mimpi buruk bagi semua pengusaha terutama bagi sebuah startup.

Untuk menghindari atau setidaknya meminimalisir kegagalan tersebut, Anda membutuhkan sebuah strategi efektif dalam perencanaan produk baru.

Perusahaan startup yang sukses dan meraih untung besar saat ini adalah mereka yang mampu menjalankan strategi efektif tadi, dan akhirnya mampu membuat produk yang benar-benar menjawab kebutuhan konsumen.

new product

Photo doc: shiftit.ir

Salah satu kunci utama dalam build product adalah mendengarkan apa kata konsumen. Tanyakan pada diri Anda pertanyaan berikut:

  1. Apa saja yang menjadi kebutuhan konsumen saat ini?
  2. Dari produk sejenis yang ada saat ini, apakah ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan apakah Saya bisa memanfaatkan hal tersebut untuk produk baru saya?
  3. Apakah konsumen bisa atau mau menggunakan produk tersebut? Bagaimana cara agar konsumen bukan hanya bisa tapi juga mau untuk menggunakannya.

Mendengarkan apa kata konsumen adalah salah satu rahasia utama dalam menciptakan prduk baru yang sukses di pasaran.

Ingin tahu lebih lanjut? Mari kita kupas satu persatu.

 

Rahasia Sukses dalam Perencanaan Produk Baru

9 hal berikut menjadi sebuah hal yang wajib bagi Anda yang ingin menciptakan produk baru yang sukses dan diterima di pasar.

Daftar isi:

  1. Fokus pada jenis kebutuhan
  2. Cari tahu mengenai kebutuhan konsumen yang selama ini belum terpenuhi
  3. Buat rencana dasar produk Anda
  4. Buatlah prototype
  5. Luncurkan prototype ke pasaran
  6. Penyempurnaan produk
  7. Data dan instrumen
  8. Bangun user experience yang hebat
  9. Libatkan emosi pada produk Anda

 

1. Fokus pada jenis kebutuhan

kebutuhan manusia

Photo doc: perpuskampus.com

Produk seperti apa yang akan Anda buat? Apakah produk makanan, minuman, fashion, hijab, suplemen kesehatan, furniture, perhiasan, atau perlengkapan kamar mandi?

Fokuskan pada satu jenis kebutuhan untuk memudahkan Anda melakukan riset. Hal ini berlaku buat Anda yang hendak memulai sebuah usaha baru namun belum memastikan jenis produk yang akan menjawab kebutuhan konsumen.

Bila Anda sudah menemukan jenis produk yang ingin Anda buat, akan lebih mudah untuk menggali berbagai informasi yang berkaitan dengannya.

 

2. Cari tahu mengenai kebutuhan konsumen yang selama ini belum terpenuhi

Apakah Anda tahu salah satu kesalahan terbesar startup yang akhirnya membuat mereka gulung tikar?

kebutuhan konsumen

Photo doc: manajemenon.blogspot.co.id

Mereka menciptakan produk yang tidak dibutuhkan orang. Sebuah penelitian “Top 10 Startup Mistakes” yang dimuat dalam 100 firsthits pada tahun 2013 menunjukkan bahwa 36% dari total 833 responden mengalami kegagalan karena merancang produk yang tidak dibutuhkan dan diinginkan konsumen.

Apa artinya? Dalam proses perencanaan produk baru, pastikan Anda membuat produk yang dibutuhkan konsumen. Bila tidak, bisa dipastikan produk tersebut akan gagal di pasaran.

Bagaimana Anda bisa mengetahui hal tersebut? Riset, riset, riset.

Lakukan wawancara dengan orang-orang, buatlah sebuah survey untuk mencari tahu mengenai kebutuhan masyarakat, perhatikan trend yang sedang berkembang, kunjungi forum-forum konsumen di internet dan observasi.

Terkadang hal-hal yang menjadi kebutuhan konsumen tidak terlihat secara kasat mata. Anda perlu jeli dalam melihatnya. Coba kunjungi forum-forum yang membahas tentang produk-produk yang sejenis seperti yang akan Anda luncurkan. Disana Anda akan melihat reaksi orang-orang mengenai produk tersebut, apa yang mereka sukai dari produk tersebut, apa kekurangannya, pendapat pribadi mereka mengenai apa yang perlu dikembangkan dari produk tersebut, dan masih banyak hal lainnya.

Bila Anda jeli dalam membacanya, maka Anda bisa menemukan titik permasalahan yang bisa Anda jawab dalam produk terbaru Anda.

 

3. Buat rencana dasar produk Anda

Jika Anda sudah mengetahui jenis produk serta permasalahan yang ada di lingkup nyata, Anda bisa segera mulai merancang produk.

Buatlah sebuah desain awal yang menjadi inti dari produk Anda. Buatlah beberapa desain yang nantinya bisa dievaluasi kembali untuk memilih desain yang paling tepat.

desain awal label sebuah produk

Photo doc: creativepro.com

Dalam tahapan ini, jangan terpaku pada membuat produk yang benar-benar sempurna. Jangan terlalu memusingkan diri dengan detail rinci ataupun teknologi khusus yang akan dipergunakan pada produk tersebut. Fokuskan usaha Anda dalam menciptakan produk yang bisa menjawab kebutuhan dan permasalahan konsumen

Sederhana namun bisa memberi manfaat maksimal. Untuk masalah detailnya bisa menyusul belakangan.

Ingat, sederhana namun efektif. Apabila produk tersebut bisa menjawab satu kebutuhan dasar konsumen, maka Anda bisa memulainya. Sebagai contoh Google yang fungsi utamanya adalah untuk menemukan informasi, lalu ada juga Amazon dengan kemudahan transaksinya. Kedua brand tersebut mampu menjawab satu saja kebutuhan dasar dari konsumen, dan lihat hasilnya.

Amazon Logo

Photo doc: amazon.com

Sederhana namun mampu menjawab kebutuhan konsumen.

Ngga Bisa Bikin Desain Label? #JanganBikinSusah

4. Buatlah prototype

Tahap selanjutnya dalam perencanaan produk baru adalah membuat prototipe produk tersebut. Prototipe adalah contoh, model dan tahap awal dari produk yang diharapkan akan menjadi solusi yang menjawab kebutuhan konsumen.

prototype

Photo doc: dreamstime.com

Anda juga bisa melakukan asesmen untuk melihat tingkat efektifitasnya. Lakukan analisis pada prototipe tersebut:

  • Apakah produk tersebut benar-benar bisa menjawab permasalahan yang dihadapi konsumen?
  • Apakah biaya produksi dan pengembangan produk benar-benar efisien dan sesuai dengan hasil yang ditawarkan?
  • Bagaimana dengan perbandingan antara biaya produksi dengan profit?

Dengan melakukan asesmen, Anda bisa melihat kelebihan serta kekurangan produk Anda.

Salah satu upaya terbaik untuk menilai efektifitas produk Anda adalah dengan mencoba produk itu sendiri. Pergunakan produk tersebut hingga batas maksimal. Cari tahu tingkat ketahanannya, permasalahan serius yang bisa jadi merugikan para pengguna, ataupun celah-celah lain yang mungkin tidak terlihat dalam bentuk desain.

Bayangkan situasi dan kondisi dimana produk tersebut akan dipergunakan dan coba praktekkan sendiri. Apakah produk tersebut mampu menghadapi semua tantangan tersebut? Apakah produk tersebut masih rapuh? Apakah perlu dilakukan perbaikan tertentu?

Dengan begini, Anda akan memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang produk tersebut. Pemahaman ini akan menjadi modal dasar Anda dalam mempresentasikan produk ini kepada para calon investor dan juga para calon konsumen.

5. Luncurkan prototype ke pasaran

Hasil asesmen yang Anda lakukan belumlah cukup untuk menilai apakah produk tersebut benar-benar bisa diterima di pasaran.

Anda perlu mengetahui reaksi konsumen mengenai produk tersebut. Hal yang perlu Anda lakukan adalah meluncurkan prototipe ke pasaran. Lakukan dalam skala kecil saja dan dengarkan feedback dari konsumen.

feedback

Photo doc: cityofmentor.com

Bagaimana pendapat mereka mengenai produk tersebut? Apa kelebihan dan kekurangannya? Menurut mereka apa yang perlu diperbaiki dari produk tersebut? Apakah mereka mau atau bisa menggunakan produk tersebut?

Ada sebuah pertanyaan menarik yang perlu Anda tanyakan kepada konsumen di tahap ini. Tanyakan apakah mereka akan atau bisa menggunakan produk tersebut. Seorang konsumen bisa saja memilih untuk menggunakan produk tersebut, namun pada akhirnya berpaling pada produk sejenis karena berbagai alasan mulai dari harga, kebiasaan, atau mungkin karena produk tersebut memang menyenangkan untuk dimiliki, namun bukan menjadi sebuah solusi utama penyelesaian masalah sang konsumen.

Namun bila konsumen akan menggunakan produk tersebut, berarti Anda telah berada di jalan yang benar.

 

6. Penyempurnaan produk

Tujuan utama dalam membuat sebuah prototype adalah untuk melihat reaksi konsumen. Setelah itu, lakukan perbaikan yang dibutuhkan untuk menyempurnakan produk tersebut.

penyempurnaan produk terus menerus

Photo doc: slideshare.net

Eric Ries dalam bukunya “Lean Startup” memperkenalkan sebuah teori yang dibutuhkan oleh setiap startup yang ingin tetap selamat menghadapi perubahan. Model teori build-measure-learn berfokus pada 3 aspek dasar yang bisa dipraktekkan saat merancang produk ataupun saat menjalankan bisnis.

Ciptakan produk, lakukan pengukuran, dan pelajari hasilnya. Khusus dalam hal perancangan produk baru, Anda perlu menambahkan satu hal lagi, yaitu perbaikan.

perencanaan produk baru - flowchart

Photo doc: ignitetech.org

Lakukan perbaikan kecil terhadap produk tersebut berdasarkan feedback dari konsumen dan hasil test yang ada. Proses ini perlu dilakukan berulang-ulang untuk bisa mendapatkan produk yang mendekati sempurna. Lakukan perbaikan kecil pada produk tersebut, kemudian lakukan pengukuran, dan ulangi kembali prosesnya.

Melakukan perubahan dan perbaikan kecil seperti ini jauh lebih efektif daripada membuat sebuah perbaikan besar-besaran yang akan memakan waktu, lebih sulit untuk diukur, serta lebih sulit untuk disingkirkan bila produk tersebut tidak bekerja seperti apa yang diharapkan.

Perhatikan produk-produk sukses yang ada di luar sana? Tidak ada versi awal dari sebuah produk yang bisa memenangkan pasar ataupun menghasilkan profit yang tinggi. Semua produk tersebut merupakan hasil dari perbaikan terus menerus yang dilakukan oleh sang pemilik.

 

7. Data dan instrumen

Sederhana saja, bila Anda tidak memiliki alat untuk mengukur dan mengevaluasi sebuah produk, bagaimana Anda akan melakukan perbaikan yang dibutuhkan.

Bila produk tersebut adalah sebuah mobil baru, bagaimana Anda bisa mengetahui tingkat kecepatan maksimal dari mobil tersebut tanpa adanya alat pengukur kecepatan

Semua data dan instrumen tersebut Anda butuhkan agar bisa menjalankan bisnis dengan baik. Analoginya seperti ini, bila seorang pilot pesawat terbang tidak mampu membaca instrumen yang ada maka bisa dipastikan bahwa pesawat tersebut akan jatuh.

Seorang pemilik bisnis yang tidak memiliki instrumen yang ada bisa dikatakan sama dengan pilot tadi. Tanpa alat dan instrumen untuk memandu, maka mereka tidak akan bisa melihat jurang kegagalan yang membentang di depan.

Alat dan instrumen seperti apa yang Anda butuhkan? Ada berbagai jenis instrumen pengukuran yang bisa dipergunakan, yang perlu disesuaikan dengan jenis bisnis Anda. Namun, ada 3 instrumen yang pastinya akan bermanfaat yaitu:

  • Jumlah rata-rata pesanan produk
  • Besarnya keuntungan
  • Tingkat konversi dari pengunjung menjadi pembeli
conversion rate

Photo doc: blog.plugtalent.com

Bila nilai dari 3 instrumen tersebut menunjukkan peningkatan, maka produk baru tersebut memiliki peluang sukses yang cukup baik, namun bila tidak, perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan lebih lanjut.

Butuh Jasa Konsultasi Bisnis?

8. Bangun User Experience yang Hebat

Ini merupakan tahapan penting dalam perencanaan produk baru. Selama proses ini, Anda akan sering berinteraksi dengan konsumen, terutama setelah anda melepas prototype dari produk tersebut.

Sangatlah penting bagi Anda untuk menciptakan user experience yang hebat. Bagaimana caranya? Anda bisa mulai dengan memberikan deskripsi yang sederhana dan mudah dipahami oleh kebanyakan orang. Berikan penjelasan yang ringan namun tetap menjabarkan produk Anda dengan keseluruhan. Deskripsi yang terlalu rumit justru akan memusingkan calon konsumen dan membuat mereka menjauh.

Berinteraksilah dengan konsumen. Bila ada yang komplain, layani dengan segera. Berikan apresiasi untuk mereka yang hadir dan memberikan saran. Bila ada masalah, berikan solusi secepat mungkin.

user experience flow

Photo doc: interbizconsulting.com

Pada intinya, buat calon konsumen merasa senang selama proses interaksi dengan Anda. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebuah startup yang mampu memberikan user experience yang hebat akan mendapatkan profit yang terus meningkat, sementara startup yang tidak bisa memberikannya akan mengalami pertumbuhan yang sangat lambat.

 

9. Libatkan emosi pada produk Anda

Sentuhan terakhir dalam proses menciptakan produk adalah dengan melibatkan emosi.

Mengapa? Karena sebagian besar orang membeli sesuatu lebih karena alasan emosional. Aspek fungsional semata dari sebuah produk tidaklah cukup untuk membuat seseorang tertarik untuk mempergunakannya.

Contoh sederhana, seorang konsumen akan membeli pakaian dengan desain yang menarik agar dirinya bisa tampil penuh gaya. Desain pakaian perlu dibuat semenarik mungkin untuk menarik hati, atau dalam hal ini melibatkan emosi calon konsumen. Pakaian dengan desain dan warna yang menarik pasti lebih laris dibandingkan dengan pakaian dengan desain yang apa adanya.

Hal yang sama berlaku untuk produk lainnya. Ada berbagai aspek dimana Anda bisa melibatkan emosi calon konsumen. Mulai dari penampilan fisik produk tersebut. Penampilan dan desain yang unik dan menarik akan memilki peluang yang lebih baik untuk bisa sukses.

emotional

Photo doc: breakingblueresearch.com

Selain itu, dalam proses promosi yang dilakukan, tonjolkan kelebihan yang akan meyentuh sisi emosional sang pengguna, misalnya saja desain mobil terbaru yang mampu menampung seluruh anggota keluarga dengan nyaman. Promosi seperti ini akan menarik hati calon konsumen yang ingin membahagiakan keluarganya.

Anda juga bisa melibatkan emosi calon konsumen dengan cara “membungkus” produk tersebut dengan sebuah cerita yang menarik. Pikirkan tentang cerita yang disampaikan oleh DeBeers yang mengatakan bahwa komitmen seorang suami pada istrinya bisa dilihat dari berlian yang dikenakan oleh sang istri. Cerita ini membawa dampak yang sangat besar bagi industri berlian yang membuatnya tumbuh menjadi sebuah industri besar. Saat ini berlian dianggap sebagai salah satu simbol kekayaan dan merupakan hadiah terbaik bagi seorang wanita. Semua itu berkat sebuah cerita.

 

Proses Paten Produk Baru

Bila Anda berhasil merancang dan menciptakan produk baru, maka Anda perlu untuk mematenkannya.

hak paten produk baru

Photo doc: sumbbu.com

Mengapa? Agar produk tersebut tidak “dicaplok” oleh pihak lain dan Anda akan mendapatkan royalti dari produk tersebut. Proses untuk mematenkan produk baru bisa memakan waktu yang cukup lama, namun hasilnya sepadan. Produk-produk sukses yang ada di luar sana telah dipatenkan oleh produsen mereka masing-masing dan Anda bisa melakukan hal yang sama.

Proses paten produk baru itu sendiri meliputi tahapan sebagai berikut:

1. Dokumentasi yang lengkap mengenai produk tersebut.

Buatlah sebuah catatan dokumentasi yang lengka mengenai produk yang akan Anda patenkan. Catatan ini berisikan semua hal mulai dari proses penciptaan produk, alasan pembuatan, lama proses pembuatan, bahan dan material yang dibutuhkan untuk membuatnya, fitur-fitur yang ditawarkan oleh produk tersebut, perbandingan antara produk tersebut dengan produk lain di pasaran, serta gambar dari produk tersebut.

Satu hal yang perlu Anda tonjolkan dalam hal ini adalah keunikan produk Anda. Anda harus bisa membuktikan bahwa produk tersebut adalah produk yang unik dan belum ada produk lain sepertinya. Hal ini merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hak paten.

 

2. Pergunakan jasa konsultan hukum HKI untuk membantu dalam proses mendapatkan hak paten serta mengatasi bila terjadi permasalahan pelanggaran hak paten.

Bantuan profesional seperti ini akan membantu Anda untuk menyelami ranah peraturan seputar hak paten.

 

3. Ajukan permohonan hak paten

Anda bisa mengisi formulir serta melengkapi segala berkas persyaratan serta membayar sejumlah uang permohonan pengajuan.

Setelah mendapatkan tanggal permintaan, masuk ke masa pengumuman untuk menyebarluaskan cerita mengenai produk Anda serta untuk mengetahui apakah ada aduan dari pihak lain.

 

4. Ajukan permohonan hak substantif.

Sebagai tahap akhir dari proses paten, dan untuk melihat apakah produk ANda akan mendapatkan hak paten atau tidak.

 

Biaya untuk Penciptaan Produk Baru

Darimana Anda mendapatkan biaya untuk membuat sebuah produk baru? Ada berbagai sumber pembiayaan yang bisa Anda temukan saat ini, namun salah satu sumber terbaik adalah dengan membuat permohonan permintaan dana melalui crowdsourcing.

crowdsourcing

Photo doc: financialhelper.co.uk

Tersedia berbagai jenis crowdsourcing untuk membiayai produk Anda, misalnya saja GoFundMe, Kickstarter, East Ventura, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Jika Anda sudah memiliki pengalaman dalam menciptakan produk baru, maka tidak ada salahnya untuk langsung mempresentasikan produk Anda kepada investor besar misalnya perusahaan yang memproduksi rangkaian kategori produk yang seirama dengan produk Anda.

Tentu saja Anda harus mampu mempresentasikan produk tersebut sebagai produk yang menarik, inovatif, dan juga fungsional, agar mampu mendapatkan pendanaan yang dibutuhkan.

 

Pengembangan dan Inovasi Produk

Jangan puas dengan keberhasilan produk yang ada saat ini. Persaingan sangatlah ketat, dan bukan tidak mungkin para kompetitor akan menyalip kesuksesan Anda.

perencaan produk baru

Photo doc: hrdspot.com

Pengembangan dan inovasi produk merupakan sebuah langkah yang perlu terus menerus dilakukan. Pada tahap awal, setelah Anda selesai menciptakan produk baru, lakukanlah hal-hal berikut:

1. Membuat rencana pengeluaran

Saatnya berpikir besar. Buatlah sebuah rencana pengeluaran mengenai segala hal yang Anda butuhkan untuk memasarkan produk tersebut ke pasaran.

Hal-hal apa saja yanng dibutuhkan untuk memulai proses produksi? Bagaimana dengan bahan baku dan materialnya? Apakah ada biaya tambahan yang dibutuhkan? Apakah Anda membutuhkan bantuan tenaga untuk melakukan proses produksi?

 

2. Membuat rencana pemasaran

Tentunya Anda sudah perlu memikirkan tentang cara pemasaran produk baru Anda. Proses perencanaan produk baru akan berakhir sia-sia jika produk tersebut tidak dipasarkan.

Pikirkan tentanng nilai jual dari produk tersebut. Apa yang membuat produk tersebut benar-benar beda dari yang lain? Apa kelebihan produk tersebut?

 

3. Mencari investor

Bila Anda membutuhkan dana lebih untuk membiayai proses produksi dan pemasaran produk Anda, maka sudah saatnya untuk mencari investor. Presentasikan ide dan produk Anda semenarik mungkin untuk mendapatkan dana segar yang dibutuhkan.

 

4. Menetapkan kriteria untuk mengontrol kualitas produk

Produk yang benar-benar berkualitas akan mampu memasarkan drinya sendiri. Jangan sampai Anda terlena dengan proses produksi hingga lupa untuk menjaga kualitas produk Anda.

Buatlah sebuah kriteria yang bisa Anda jadikan cara untuk mengontrol kualitas produk, misalnya sumber dan jenis bahan baku, lama proses pembuatan, perhatian pada detail produk, dan lain sebagainya.

 

5. Evaluasi dan inovasi

Dalam pengembangan produk Anda, perlu dilakukan evaluasi secara berkala. Lakukan analisa tentang perkembangan pasar serta pengaruhnya terhadap produk Anda, kekurangan dari produk yang perlu diperbaiki, serta inovasi yang bisa Anda lakukan agar produk Anda tidak ketinggalan jaman

 

Pemasaran

Setelah proses panjang yang dimulai dari perencanaan produk baru hingga akhirnya proses produksi, saatnya untuk memasarkan produk tersebut.

marketing strategy

Photo doc: dictio.id

Rencana pemasaran seperti apa yang ada dalam pikiran Anda? Media apa yang akan Anda pakai untuk mempromosikan dan menjual produk tersebut? Siapa saja yang menjadi target pasar Anda? Masih banyak lagi pertanyaan yang perlu Anda jawab untuk masuk dalam tahap ini.

Semoga sukses dengan produk baru Anda.

Jangan lewatkan Bab – Bab menarik sebelumnya :

8 Langkah Lengkap Ciptakan Ide Bisnis Kreatif Jadi Kenyataan

Di jaman yang ‘semua serba ada’ ini, tampaknya sulit sekali menemukan ide bisnis kreatif yang bisa survive di pasar. Sebagian orang bingung dan sebagian lagi bersusah payah tapi tidak juga menemukan sebuah usaha yang bisa booming.

 

7 Langkah Mudah Untuk Membangun Brand Identity yang Kuat Untuk Brand Kalian

Ingin memiliki kesempatan lebih besar dalam mensukseskan bisnis yang sedang kalian jalankan saat ini? Bagaimana bila kalian membangun brand identity? Apa itu brand identity?

 

(Terlengkap) Panduan Membuat Perizinan Usaha untuk Bisnis

Persiapan dokumen, persyaratan administrasi, isi formulir, mengantri… Sepertinya ribet banget ya membuat SIUP untuk izin usaha? Tapi ini wajib untuk setup company, gimana dong? Ini salah satu yang seringkali bikin malas.

Rendy Andriyanto

Rendy Andriyanto

Jr. SEO Specialist at Sribu & Sribulancer || Read More about me at Anak Muda
Follow Me:
Read previous post:
freelancer of the month
Valencyalyh : Cerita dari Freelancer of The Month Writer

"Dari hasil job menjadi freelancer yang saya jalani, akhirnya saya bisa membiayai kuliah sendiri, mandiri dalam hal financial, dan membantu...

Close